
BERITASUMATRA.COM– Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution meminta agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Asahan segera dievaluasi menyusul keputusan MTsN 1 Asahan menghentikan partisipasi dalam program tersebut.
Menurut Bobby, persoalan yang terjadi tidak dapat serta-merta dianggap sebagai kegagalan Program Makan Bergizi Gratis. Ia menilai dugaan masalah justru berada pada kualitas pelayanan SPPG yang bertanggung jawab dalam penyediaan dan distribusi makanan kepada para siswa.
“Yang perlu dikoreksi itu SPPG-nya. Nanti saya cek SPPG yang menangani sekolah tersebut. Kalau memang dapurnya yang bermasalah, berarti itu yang harus diperbaiki, bukan program MBG-nya,” ujar Bobby kepada wartawan di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Rabu (15/7/2026).
Bobby menegaskan bahwa tujuan utama MBG adalah memastikan kebutuhan gizi peserta didik terpenuhi secara optimal. Karena itu, apabila ditemukan kendala dalam pelaksanaannya, pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap pihak pelaksana di lapangan agar manfaat program tetap dapat dirasakan oleh para siswa.
Ia menilai kualitas pelayanan SPPG harus menjadi perhatian serius karena program tersebut menyasar anak-anak usia sekolah yang membutuhkan asupan gizi seimbang untuk menunjang pertumbuhan dan proses belajar.
“Masih banyak anak-anak yang membutuhkan program ini. Jangan sampai tujuan pemenuhan gizi tidak tercapai hanya karena ada kesalahan dalam pelaksanaan di tingkat SPPG. Kalau memang ada kekurangan, tentu harus ditegur dan dibenahi,” katanya.
Pernyataan Bobby muncul
setelah MTsN 1 Asahan memutuskan menghentikan keikutsertaan dalam Program Makan Bergizi Gratis mulai Senin (13/7/2026). Keputusan tersebut berdampak pada sekitar 400 siswa yang sebelumnya menjadi penerima manfaat program.
Informasi mengenai penghentian MBG pertama kali mencuat dari laporan sejumlah orang tua siswa. Mereka mengaku anak-anak mereka tidak lagi menerima makanan bergizi gratis seperti yang diberikan pada periode sebelumnya.
Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai spekulasi mengenai penyebab penghentian program di sekolah tersebut.
Kepala SPPG 02 Rawang Lama, Gunawan, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima surat resmi dari MTsN 1 Asahan mengenai penghentian kerja sama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Menurut Gunawan, surat tersebut diterima pada 25 Juni 2026. Dalam surat itu disebutkan bahwa pihak sekolah memutuskan tidak lagi mengikuti program mulai 13 Juli 2026.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah alasan yang disampaikan pihak sekolah sebagai dasar penghentian kerja sama.
Pertama, menu makanan yang disediakan dinilai belum memenuhi harapan pihak sekolah. Kedua, adanya dugaan konflik kepentingan dalam pelaksanaan program. Ketiga, pola kerja sama antara sekolah dan pihak pelaksana dinilai kurang humanis sehingga memengaruhi hubungan kedua belah pihak.
“Surat resmi memang sudah kami terima. Di dalamnya dijelaskan beberapa alasan sekolah menghentikan keikutsertaan dalam program MBG,” ujar Gunawan.
Meski demikian, hingga kini pihak MTsN 1 Asahan belum memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik mengenai keputusan tersebut. Belum diketahui secara rinci bentuk ketidaksesuaian menu maupun persoalan yang dimaksud dalam surat penghentian kerja sama.
Gunawan mengatakan pihaknya tidak tinggal diam setelah menerima surat tersebut. Berbagai upaya komunikasi telah dilakukan untuk mencari jalan keluar agar program tetap dapat berjalan dan para siswa tidak kehilangan manfaatnya.
Ia mengaku sudah dua kali mendatangi sekolah untuk bertemu dengan kepala sekolah. Bahkan, pada salah satu kesempatan, dirinya didampingi oleh Babinsa sebagai bentuk dukungan dalam menjalin komunikasi.
Namun hingga saat ini, pertemuan tersebut belum berhasil terlaksana.
“Saya sudah dua kali datang ke sekolah. Kami juga mencatat buku tamu dan bahkan pernah didampingi Babinsa. Tetapi memang belum sempat bertemu dengan kepala sekolah,” katanya.
Kasus ini menjadi sorotan karena Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah. Bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah sekaligus mendukung kesehatan dan prestasi belajar mereka.
Karena itu, Bobby Nasution menilai evaluasi terhadap SPPG harus dilakukan secara menyeluruh apabila ditemukan pelayanan yang tidak sesuai standar. Ia berharap perbaikan dapat segera dilakukan sehingga kepercayaan masyarakat terhadap program tetap terjaga.
Menurutnya, evaluasi tidak hanya menyangkut kualitas makanan yang disajikan, tetapi juga tata kelola pelayanan, koordinasi dengan pihak sekolah, hingga komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaan program berjalan lebih baik.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, lanjut Bobby, akan menelusuri SPPG yang menangani MTsN 1 Asahan sebelum menentukan langkah pembinaan maupun perbaikan. Ia menegaskan bahwa setiap persoalan dalam pelaksanaan program harus diselesaikan tanpa menghilangkan manfaat yang seharusnya diterima para siswa.
Dengan adanya evaluasi tersebut, diharapkan Program Makan Bergizi Gratis dapat kembali berjalan secara optimal di MTsN 1 Asahan maupun di sekolah lainnya. Sehingga tujuan meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan peserta didik tetap tercapai.
