
BERITASUMATRA.COM– Pemandangan anak-anak sekolah yang harus kecelakaan keselamatan dengan menyelamatkan Sungai Deli melalui pipa PDAM kini tinggal kenangan. Setelah sempat viral di media sosial dan menyita perhatian publik. Warga akhirnya memiliki akses penyeberangan yang lebih aman melalui sebuah jembatan besi yang baru dibangun.
Jembatan tersebut kini telah berdiri menghubungkan tiga kecamatan di Kota Medan, yakni Kecamatan Medan Johor, Medan Polonia, dan Medan Maimun. Kehadirannya menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya para pelajar yang setiap hari harus menampilkan sungai untuk menuju sekolah.
Selama hampir dua tahun terakhir, warga terpaksa menggunakan pipa PDAM sebagai jalur alternatif setelah jembatan yang sebelumnya menjadi akses utama roboh pada tahun 2024. Kondisi tersebut memaksa anak-anak sekolah hingga warga sekitar mengambil risiko besar setiap kali harus melintasi Sungai Deli.
Perhatian masyarakat terhadap kondisi tersebut meningkat setelah video sejumlah pelajar berjalan di atas pipa PDAM viral di berbagai platform media sosial pada April 2026. Dalam video itu, tampak para pelajar dengan hati-hati meniti pipa yang berada di atas aliran Sungai Deli dengan ketinggian lebih dari 10 meter.
Aksi tersebut menuai kesejahteraan masyarakat. Banyak warganet yang menilai kondisi itu sangat berbahaya, terlebih jalur tersebut digunakan setiap hari oleh anak-anak yang berangkat maupun pulang sekolah.
Kini, beberapa bulan setelah video tersebut menjadi sorotan, harapan warga akhirnya terwujud.
Kepala Lingkungan 3 Kelurahan Pangkalan Masyhur. Kecamatan Medan Johor, Deka Hamdani, mengatakan. Pembangunan jembatan baru telah selesai dilakukan dan sudah bisa dimanfaatkan secara terbatas oleh masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah sekarang jembatan kami sudah dibangun dan terealisasi.” kata Deka Hamdani, Sabtu (18/7/2026).
Pantauan Kompas.com di lokasi menunjukkan jembatan gantung berwarna merah itu telah berdiri kokoh membentang di atas Sungai Deli. Jembatan tersebut dilengkapi dua menara penyangga di masing-masing sisi yang menopang kabel baja (wire Rope) sebagai struktur utama.
Selain itu, akses jalan menuju jembatan juga telah dicor sehingga memudahkan masyarakat saat melintas. Meski masih memasuki tahap penyelesaian akhir, kondisi jembatan dinilai sudah jauh lebih aman dibandingkan jalur lama yang memanfaatkan pipa PDAM.
Menurut Deka, pembangunan jembatan dimulai sekitar tiga pekan lalu dengan target penyelesaian selama 40 hari. Proyek tersebut menjadi jawaban atas harapan warga yang sejak lama menginginkan akses penyeberangan yang layak.
Ia menjelaskan, pembangunan kali ini berbeda dengan jembatan sebelumnya yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat.
Jika sebelumnya warga bergotong royong membangun jembatan sederhana menggunakan dana dan tenaga sendiri. Kali ini pembangunan dilakukan oleh Kodam I/Bukit Barisan (I/BB) bekerja sama dengan pemerintah.
Kolaborasi tersebut membuat pembangunan berjalan lebih cepat. Sekaligus menghasilkan jembatan dengan konstruksi yang lebih kuat dan aman untuk digunakan dalam masyarakat jangka panjang.
Meski belum diresmikan secara resmi
warga sekitar sudah mulai memanfaatkan jembatan tersebut untuk beraktivitas sehari-hari. Kalaupun dilewati, orang-orang kampung situ aja. Artinya, anak sekolah juga sudah tidak lewat pipa PDAM itu lagi, ujar Deka.
Menurutnya, keberadaan jembatan baru memberikan rasa lega bagi para orang tua yang selama ini selalu dihantui rasa khawatir ketika anak-anak mereka berangkat ke sekolah.
Sebelumnya, banyak orang tua harus memastikan anak-anak mereka melewati sungai dengan selamat karena jalur yang digunakan sangat berbahaya, terutama saat hujan turun dan kondisi pipa menjadi licin.
Kini kekhawatiran tersebut mulai berkurang karena anak-anak memiliki jalur penyeberangan yang lebih aman.
Tidak hanya bagi pelajar, Jembatan Baru juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar yang setiap hari di seluruh Sungai Deli untuk bekerja, berdagang, maupun menjalankan aktivitas lainnya.
Jembatan itu menjadi penghubung penting antara Kecamatan Medan Johor, Medan Polonia, dan Medan Maimun.
Wilayah ketiga tersebut memiliki mobilitas warga yang cukup tinggi sehingga keberadaan jembatan sangat membantu memperpendek waktu tempuh dibandingkan harus memutar melalui jalur lain yang lebih jauh.
“Alhamdulillah memang terbantu kali hadirnya jembatan ini. Masyarakat juga senang, terutama anak sekolah yang masuk semester baru. Karena di sini banyak sekolah,” kata Deka.
Ia berharap setelah proses pembangunan selesai sepenuhnya, jembatan segera diresmikan agar dapat digunakan secara maksimal oleh seluruh masyarakat.
Menurutnya, jembatan bukan hanya menjadi fasilitas umum, tetapi juga simbol hadirnya solusi atas permasalahan yang selama ini dihadapi warga.
Sebelumnya, kondisi memprihatinkan yang dialami warga sempat menjadi perhatian luas setelah video para pelajar melihat Sungai Deli menggunakan pipa PDAM yang viral di media sosial.
Dalam video tersebut, para pelajar terlihat berjalan satu per satu di atas pipa dengan sangat berhati-hati sambil membawa tas sekolah.
Tidak sedikit warganet yang mengaku khawatir melihat aksi tersebut karena sedikit saja kehilangan keseimbangan dapat berakibat fatal.
Video itu juga memicu berbagai respon dari masyarakat yang meminta pemerintah segera memberikan solusi. Agar anak-anak tidak lagi mempertaruhkan nyawa hanya untuk bisa berangkat ke sekolah.
Fakta bahwa jalur berbahaya yang digunakan setiap hari semakin memperkuat desakan pembangunan jembatan menjadi prioritas.
Setelah beberapa bulan berlalu, pembangunan jembatan akhirnya menjadi jawaban atas aspirasi masyarakat.
Kini, suara langkah kaki anak-anak sekolah yang dulu terdengar di atas pipa PDAM telah berganti dengan langkah mereka melintasi jembatan besi yang lebih aman.
Perubahan tersebut tidak hanya menghadirkan rasa nyaman bagi para pelajar dan orang tua, tetapi juga menjadi bukti bahwa perhatian publik terhadap permasalahan infrastruktur dapat mendorong lahirnya solusi nyata bagi masyarakat.
Dengan hadirnya jembatan baru, warga berharap aktivitas sehari-hari dapat berlangsung lebih lancar tanpa harus membayangkan risiko kecelakaan saat melintasi Sungai Deli. Bagi anak-anak sekolah, jembatan itu bukan sekedar sarana penghubung, melainkan juga harapan baru untuk berangkat dan pulang sekolah dengan rasa aman.
