
Di Tengah Perayaan Kemerdekaan, Warga Mungkal Masih Berjuang Mendapatkan Kebutuhan Dasar
Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, masih ada warga yang menjalani kehidupan jauh dari fasilitas dasar yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu masih dirasakan ratusan warga di Dusun III Mungkal, Desa Penyengat, Kabupaten Siak, Riau. Di dusun yang dihuni sekitar 120 kepala keluarga (KK) tersebut, listrik belum tersedia. Jaringan internet pun belum menjangkau kawasan itu.
Namun, persoalan yang paling mendasar justru berada pada kebutuhan air bersih.
Warga Dusun III Mungkal hingga kini masih mengandalkan air gambut untuk berbagai kebutuhan, termasuk mandi dan mencuci. Air yang bagi sebagian besar masyarakat mungkin tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terpaksa menjadi pilihan warga karena tidak ada sumber air bersih yang dapat diandalkan.
Bagi masyarakat Mungkal, kondisi tersebut bukan sesuatu yang baru. Mereka sudah terbiasa menjalani kehidupan dengan keterbatasan itu dari hari ke hari.
Air Gambut Menjadi Pilihan karena Tak Ada Alternatif
Keterbatasan air bersih menjadi salah satu gambaran nyata kehidupan warga Dusun III Mungkal.
Air gambut yang tersedia di sekitar permukiman digunakan untuk mandi dan mencuci. Warga tidak memiliki banyak pilihan. Kondisi geografis kawasan yang berada di lahan gambut membuat penyediaan air bersih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.
Di tengah perkembangan teknologi dan pembangunan yang terus berjalan, kehidupan warga Mungkal seakan masih berjalan dalam ruang yang berbeda.
Listrik yang belum masuk membuat aktivitas warga setelah malam hari semakin terbatas. Akses internet juga tidak tersedia, sehingga komunikasi dan akses terhadap informasi menjadi sesuatu yang tidak mudah dilakukan.
Padahal, Dusun III Mungkal bukanlah permukiman baru. Kawasan tersebut merupakan dusun tua yang dihuni masyarakat Suku Akit.
Dari Pesisir Laut, Warga Memilih Berpindah ke Daratan
Sebelum menetap di kawasan Mungkal, masyarakat Suku Akit di dusun tersebut hidup di tepi laut.
Kehidupan mereka sangat dekat dengan pesisir. Sebagian besar warga menggantungkan hidup sebagai nelayan dan membuat sagu. Hasil tangkapan maupun olahan kemudian dijual kepada para pengepul yang datang.
Namun, hasil yang diterima warga tidak selalu sebanding dengan proses dan tenaga yang mereka keluarkan.
Kondisi itu perlahan mendorong munculnya kesadaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Terutama demi masa depan anak-anak mereka agar dapat mengenyam pendidikan dan memiliki kesempatan hidup yang lebih luas.
Keputusan pun diambil. Masyarakat mulai berpindah lebih ke daratan.
Berkebun dan Bertahan dari Alam
Setelah berpindah ke daratan, pola kehidupan masyarakat ikut berubah.
Warga mulai mengelola lahan dan berkebun. Mereka menanam nanas serta berbagai tanaman lainnya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kehidupan sebagai masyarakat pesisir perlahan beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru.
Namun, berpindah dari tepi laut ke kawasan gambut tidak serta-merta membuat kehidupan menjadi lebih mudah. Rumah-rumah yang mereka bangun tetap sederhana, menyesuaikan kemampuan ekonomi dan kondisi lingkungan.
Penghulu atau Kepala Desa Penyengat, Abok Agustinus, mengatakan rumah warga di Dusun III Mungkal umumnya masih berbentuk rumah panggung.
Namun, rumah panggung tersebut lebih rendah dibandingkan rumah yang dahulu mereka tempati di kawasan tepi laut.
“Rumah yang dihuni tetap berbentuk rumah panggung, tapi lebih rendah. Kebanyakan masyarakat membangun rumahnya dengan sangat sederhana, terbuat dari papan,” kata Abok.
Di dalam rumah, ruang yang tersedia pun sederhana. Ada ruang tamu, kamar tidur, dan dapur.
Lantainya sebagian besar dialasi karpet plastik. Begitulah gambaran rumah warga Dusun III Mungkal yang hingga kini menjalani kehidupan dengan segala keterbatasannya.
Hidup Berdampingan dengan Habitat Harimau
Keterbatasan fasilitas bukan satu-satunya tantangan yang harus dihadapi masyarakat Mungkal.
Dusun tersebut berada di kawasan yang menjadi habitat harimau. Hewan buas yang dilindungi itu bahkan kerap terlihat melintas di sekitar kawasan tempat warga beraktivitas.
Bagi masyarakat yang telah lama hidup berdampingan dengan alam, keberadaan harimau bukan sesuatu yang dapat dihadapi dengan cara sembarangan.
Warga memahami bahwa mereka hidup di wilayah yang juga menjadi rumah bagi satwa liar.
Karena itu, masyarakat berusaha menjaga jarak dan tetap menghormati keberadaan hewan tersebut.
Adat Menjadi Pegangan dalam Menjaga Alam
Kehidupan masyarakat Suku Akit di Mungkal tidak dapat dipisahkan dari adat dan lingkungan.
Abok mengatakan masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga alam dan tidak melakukan perburuan terhadap satwa liar.
“Warga tidak berburu karena hewan buruan berupa babi dan lainnya itu menjadi bagian raja hutan itu,” jelas Abok.
Bagi warga, alam bukan sekadar tempat tinggal. Alam juga menjadi bagian dari kehidupan yang harus dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Kesadaran tersebut membuat masyarakat memilih hidup berdampingan dengan lingkungan, termasuk dengan satwa liar yang berada di sekitar mereka.
120 KK Menjadi Penjaga Pesisir dan Mangrove
Meski hidup dalam keterbatasan, masyarakat Dusun III Mungkal memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir.
Sekitar 120 KK yang bermukim di dusun tersebut ikut merawat lingkungan pesisir, termasuk kawasan mangrove.
Mereka memahami bahwa mangrove bukan hanya tanaman yang tumbuh di tepi perairan. Kawasan mangrove menjadi tempat hidup berbagai biota laut sekaligus memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat pesisir.
Karena itu, keberadaan mangrove dijaga dan dirawat.
“Mereka penjaga pesisir, mereka pahlawan lingkungan,” kata Abok.
Pernyataan itu menjadi gambaran bahwa di balik keterbatasan kehidupan masyarakat Mungkal, terdapat kontribusi besar yang mereka berikan terhadap kelestarian lingkungan.
Mereka mungkin belum menikmati fasilitas dasar seperti listrik, internet, dan air bersih sebagaimana masyarakat di wilayah lain. Namun, mereka tetap menjalankan perannya sebagai penjaga alam.
Kemerdekaan yang Masih Menunggu untuk Dirasakan Sepenuhnya
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka semestinya menjadi momentum untuk melihat kembali apakah pembangunan telah benar-benar dirasakan seluruh masyarakat hingga ke pelosok.
Kisah warga Dusun III Mungkal menjadi salah satu pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang perayaan, bendera merah putih, atau seremoni setiap bulan Agustus.
Kemerdekaan juga berbicara tentang kesempatan untuk hidup layak, mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, memperoleh pendidikan, serta menikmati pembangunan tanpa terkecuali.
Warga Mungkal telah menunjukkan keinginan untuk berubah. Mereka meninggalkan kehidupan di tepi laut, berpindah ke daratan, mengelola lahan, berkebun, dan berusaha memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Mereka juga tetap menjaga adat dan lingkungan, merawat mangrove, serta memilih hidup berdampingan dengan satwa liar.
Kini, yang masih menjadi pekerjaan besar adalah menghadirkan akses dasar bagi masyarakat tersebut.
Listrik, air bersih, dan jaringan komunikasi bukan sekadar fasilitas tambahan. Bagi warga Dusun III Mungkal, semua itu merupakan bagian penting untuk membuka akses menuju kehidupan yang lebih baik.
Di tengah usia Indonesia yang telah mencapai 81 tahun kemerdekaan, harapan warga Mungkal sederhana: agar terang benar-benar sampai ke rumah mereka, air bersih dapat dinikmati, dan keterisolasian perlahan berakhir.
Sebab, kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika pembangunan tidak berhenti di pusat kota, tetapi juga hadir di rumah-rumah sederhana warga yang selama ini hidup di pelosok, menjaga alam, dan bertahan dengan segala keterbatasan.
BACA JUGA BERITA LAINNYA DI : Peredaran Narkoba di Riau Dibongkar, Bareskrim Tangkap 3 Wanita dan Sita 10 Kg Sabu
