Usai Dua Serangan Harimau di Pelalawan, WALHI Desak Perlindungan Habitat

WALHI Nilai Konflik Harimau dan Manusia Dipicu Rusaknya Ruang Hidup Satwa

BERITASUMATRA.COM— Dua insiden serangan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang menewaskan seorang anak dan seorang pekerja di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Desa Sungai Ara, Kabupaten Pelalawan, Riau, kembali memunculkan sorotan terhadap kondisi habitat satwa liar di Pulau Sumatra. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau menilai peristiwa tersebut tidak dapat dipandang sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Melainkan menjadi sinyal terganggunya keseimbangan ekosistem akibat semakin menyusutnya ruang hidup harimau.

Menurut organisasi lingkungan tersebut, konflik yang berulang antara manusia dan satwa liar merupakan konsekuensi dari perubahan bentang alam. Yang selama ini menjadi habitat alami harimau sumatra. Aktivitas industri kehutanan yang berlangsung di kawasan hutan dinilai telah mempersempit koridor jelajah satwa sehingga meningkatkan potensi perjumpaan dengan manusia.

Di sisi lain, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau telah memasang dua kandang jebak di sekitar lokasi kejadian sebagai bagian dari upaya penanganan darurat. Namun, WALHI menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan yang menyebabkan konflik terus berulang.

Penangkapan Harimau Dinilai Bukan Solusi Jangka Panjang

Koordinator Perlindungan dan Pengembangan Wilayah Kelola Rakyat (WKR) WALHI Riau, Rezki Andika, mengatakan fokus penanganan seharusnya tidak berhenti pada upaya menangkap satwa yang terlibat dalam konflik. Menurutnya, langkah tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan apabila habitat harimau terus mengalami kerusakan.

Rezki menilai baik manusia maupun harimau sama-sama menjadi korban dari perubahan fungsi kawasan hutan. Ketika ruang hidup satwa semakin menyempit, harimau akan terdorong memasuki area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia untuk mencari wilayah aman maupun sumber makanan.”Harimau secara alami adalah satwa yang cenderung takut dan menghindari manusia. Mereka menyerang manusia bukan karena manusia adalah mangsa utamanya, akan tetapi mereka menyerang karena habitatnya atau naluri keibuan mereka terancam,” ujar Rezki, Kamis (30/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa kawasan HTI di Desa Sungai Ara berada di wilayah yang selama ini dikenal sebagai bagian dari koridor pergerakan harimau sumatra. Perubahan tutupan hutan akibat aktivitas industri dinilai telah mengganggu jalur jelajah satwa yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari ekosistem alami.

Pemulihan Habitat Dinilai Menjadi Kunci

WALHI menegaskan bahwa langkah paling efektif untuk mengurangi konflik manusia dan harimau adalah memulihkan habitat satwa serta menjaga kawasan hutan yang masih tersisa. Menurut Rezki, upaya konservasi tidak cukup dilakukan melalui penanganan setelah konflik terjadi, melainkan harus dimulai dengan memastikan ruang hidup satwa tetap terjaga.

Ia menilai pemerintah bersama perusahaan pemegang izin pengelolaan kawasan hutan perlu menyusun strategi jangka panjang yang mengutamakan perlindungan ekosistem, termasuk mempertahankan koridor satwa liar agar tidak semakin terfragmentasi.

Dua Korban Jiwa dalam Rentang Waktu Berdekatan

Sorotan terhadap konflik manusia dan harimau menguat setelah dua insiden mematikan terjadi di kawasan yang sama dalam waktu kurang dari dua pekan.

Serangan pertama menewaskan seorang anak berusia 12 tahun yang merupakan anak dari pekerja di kawasan HTI Desa Sungai Ara. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada Jumat (10/7/2026) malam, seorang pekerja bernama Eko Prasetyo (29) dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diterkam harimau saat berada di sekitar kamp pekerja.

Peristiwa kedua terjadi sekitar 6,5 kilometer dari lokasi serangan pertama. Meski berbeda lokasi, hasil identifikasi awal BBKSDA Riau menunjukkan adanya kemiripan ukuran dan karakter jejak yang ditemukan di kedua tempat kejadian.

Dari hasil analisis sementara, petugas menduga jejak tersebut berasal dari seekor harimau sumatra jantan yang diperkirakan berusia sekitar tiga tahun. Temuan tersebut masih menjadi bagian dari proses investigasi lapangan yang dilakukan BBKSDA.

Sebagai langkah awal, petugas memasang dua kandang jebak di sekitar lokasi dengan harapan dapat mengidentifikasi sekaligus mengamankan satwa apabila kembali muncul di sekitar permukiman maupun kawasan kerja perusahaan.

Habitat Harimau Sumatra Dinilai Semakin Terdesak

Bagi WALHI, dua kejadian tersebut merupakan gambaran bahwa tekanan terhadap habitat harimau sumatra semakin besar. Organisasi itu menilai berkurangnya tutupan hutan membuat satwa kehilangan ruang berburu, tempat berkembang biak, hingga jalur pergerakan yang selama ini menjadi bagian dari siklus hidupnya.

Rezki mengatakan pemerintah perlu mengevaluasi aktivitas perusahaan yang beroperasi di kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi. Selain memastikan kepatuhan terhadap aspek lingkungan. Evaluasi juga dinilai penting untuk mengurangi potensi konflik satwa dan manusia di masa mendatang. “Korban anak usia 12 tahun yang merupakan anak pekerja dan pekerja yang meninggal dunia. Akibat diserang harimau pada saat di luar kampung pada malam hari. Menandakan adanya aktivitas perusahaan yang menjadi penyebab harimau menyerang manusia,” ujarnya.

Menurut WALHI, perlindungan terhadap habitat satwa harus menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan kawasan hutan, bukan hanya ketika konflik telah memakan korban jiwa.

Pentingnya Koridor Satwa Liar

Para pegiat konservasi menilai keberadaan koridor satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Koridor tersebut memungkinkan harimau berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain tanpa harus memasuki area yang padat aktivitas manusia.

Apabila jalur tersebut terputus akibat pembukaan lahan. Harimau berpotensi mencari rute baru yang bersinggungan dengan permukiman, jalan operasional perusahaan, maupun lokasi pekerja.

Kondisi inilah yang dinilai meningkatkan risiko konflik sekaligus membahayakan keselamatan manusia. Maupun kelangsungan hidup satwa yang statusnya kini masuk kategori sangat terancam.

BBKSDA Ingatkan Pentingnya SOP Perusahaan

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala BBKSDA Riau sebelumnya menyampaikan. Bahwa perusahaan yang beroperasi di kawasan habitat harimau seharusnya memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang lebih ketat dalam melindungi pekerja.

Langkah tersebut meliputi penghentian sementara aktivitas di titik-titik yang teridentifikasi sebagai jalur harimau, peningkatan patroli, penyediaan sistem peringatan dini, hingga edukasi kepada seluruh pekerja mengenai prosedur keselamatan saat berada di kawasan yang berpotensi menjadi habitat satwa liar.

Menurut BBKSDA, penerapan SOP yang konsisten menjadi bagian penting dalam meminimalkan risiko konflik selama aktivitas operasional perusahaan berlangsung.

Deforestasi Dinilai Memperbesar Risiko Konflik

Pandangan serupa juga disampaikan Direktur Perkumpulan Elang, Besta Junandi Nduru. Ia menilai dua serangan yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak dapat dilepaskan dari semakin menyempitnya habitat harimau akibat deforestasi dan perubahan fungsi kawasan hutan.

Menurut Besta, fakta bahwa serangan terjadi pada malam hari mengindikasikan kawasan HTI di Desa Sungai Ara telah menjadi bagian dari ruang jelajah harimau. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa batas antara habitat satwa dan aktivitas manusia semakin kabur.

Ia menegaskan konflik seperti ini tidak hanya mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Tetapi juga meningkatkan ancaman terhadap kelestarian harimau sumatra yang populasinya terus mengalami tekanan. “Dalam kasus ini, tidak hanya manusia yang menjadi korban, tetapi juga satwa yang dilindungi. Harimau merupakan satwa yang dilindungi. Merusak ruang hidupnya sama dengan membuatnya punah. Perusahaan yang telah melakukan deforestasi harus bertanggung jawab. Untuk mengembalikan habitat harimau di areal kerjanya sambil memastikan keamanan para pekerja,” kata Besta.

Perlindungan Habitat Jadi Langkah Pencegahan

Rangkaian peristiwa di Pelalawan kembali menunjukkan bahwa penyelesaian konflik manusia dan satwa liar membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Penanganan terhadap harimau yang muncul di sekitar permukiman memang diperlukan sebagai respons darurat. Tetapi upaya tersebut dinilai tidak akan efektif tanpa dibarengi pemulihan habitat dan pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan.

WALHI berharap pemerintah, perusahaan, serta seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat komitmen dalam menjaga ekosistem harimau sumatra. Selain melindungi spesies yang terancam punah. Langkah tersebut juga dinilai menjadi cara paling efektif untuk mengurangi risiko konflik. Yang dapat mengancam keselamatan masyarakat di sekitar kawasan hutan pada masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *